BLOGGER TEMPLATES AND Google Homepages »

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang
Kenangan Observasi Tugas Perkembangan Peserta Didik

Minggu, 31 Juli 2011

Muhammad Nashrudin Fadhli


Muhammad Nashrudin Fadhli. Harus aku mulai dari mana ya? Sejujurnya aku baru mengenal bahwa ternyata Nash adalah alumni sekolahku yang sebelumnya, MTsN Amuntai. Ini aku sadari ketika aku menjadi siwa kelas XD di SMAN 1 Amuntai. (aku menceritakan yang sejujurnya ya?). Mohon maaf sebelumnya. Tapi ada alasannya mengapa aku baru kenal pas semasa SMA. Bukannya tidak mau berteman atau bagaimana, tetapi sudah tahu pasti-kan bahwa aku dahulu hanya sanggup bergaul dalam satu komunitas kelas saja di masa SLTP? (anak yang introvert). Jadi aku yakin kau sudah memahami alasan ini sebelumnya. Dari cerita yang dikemukakan Nash selama di MTsN Model Amuntai, ternyata dia kelas VII B7 dan aku VII B6. Lebih tepatnya hanya sebatas tembok yang memisahkan dua kelas itu. Maklum, siswa MTsN Model Amuntai dari tahun ke tahun mengalami peningkatan kuantitas. Pasa masa itu saja aku yakin ada sekitar 320 orang siswa dalam satu tingkatan kelas.

Add caption
Remaja putra yang berasal dari Jawa, Lamongan ini lebih senang kupanggil Nash, atau Nashrudin. Walaupun berkorban beberapa pengucapan yang agak lebih panjang untuk memanggil Nashrudin dari pada memanggilnya Udin, ini akan jauh lebih baik dipanggil Nash atau Nashuddin dari pada Udin (pastinya buat si pemilik nama jingkrak-jingkrak sangat senang *kidding). Intinya aku lebih senang memanggil seseorang dengan nama sebenarnya dan tidak suka terhadap sebutan yang berkonotasi jelek terhadap orang lain. Bisa dikatakan aku suka menggunakan panggilan nama akrab (mungkin seperti pengucapan –kun, -san, atau –chan *diakhir nama seseorang). Nashrudin menurutku nama yang sangat populer, entah mengapa semasa SMA nama Nashrudin selalu gencar diberitakan di berbagai media.

Aku sangat ingat waktu kelas XD pada saat pelajaran Bahasa Indonesia yang di bimbing oleh Ibu Dwi Upayani (my mother * bentar lagi ditimpukin batu anak-anak yang lain kayaknya). Pada saat itu kami sedang belajar debat. Nah, aku mendapatkan topik tentang kasus pembunuhan misterius Nasrudin (Nasrudin yang diberitakan di berbagai media). Sebuah keharusan aku harus menguasai berbagai pemberitaan itu, karena aku juga selaku moderator dalam memimpin proses berjalannya debat.
R.N.F. , “…. kita semua mengetahui !! Pemberitaan apa yang menjadi topik yang paling banyak dibicarakan. Benar, pembunuhan Nasrudin….”
Setiap aku mengatakan “Nasrudin” dalam proses berjalannya debat itu. Pandanganku selalu mengarah kepada Si Nashrudin dan terkadang aku sedikit menunjuk-nunjuk orang yang duduk di barisan tengah itu. Respon teman-teman bagus dan rencanaku menjadikan topik ini “fun” akhirnya menghasilkan komunikasi dengan peserta debat. Entahlah, apakah mereka semua senang dengan perdebatan ini atau mereka lebih senang ketika melihat aku iseng menunjuk-nunjuk Si Nashrudin. Ibu Dwi juga hanya senyum-senyum saja di belakangku pada saat itu. Pengalaman yang tidak terlupakan.

Sebuah kepastian aku mengenal siswa ini sejak tiga tahun yang lalu. Termasuk seseorang sahabat yang sangat dekat diantara beberapa sahabatku dalam satu kelas selama SMA. Dia teman yang baik, jujur, mudah bergaul kepada siapa saja (memang pada awalnya sesungguhnya dia tidak PD-an dan pemalu), sahabat yang akan mendengarkan semua cerita (apapun) yang mengganjal di hati, polos dan bersemangat (sepertinya kali ini dia gulung-gulungan setelah membaca ini). Tapi ini sebuah kebenaran yang aku pahami dari kepribadiannya. Semoga saja dia tidak berubah dimasa mendatang. “Tetaplah menjadi Nash yang seperti ini….” (request dari semua teman-teman nie). Seperti kataku sebelumnya, nama “Udin” sangat populer. Semua orang pasti mengenal Udin Sedunia kan? Atau pemberitaan yang lagi-lagi mengaitkan kata “Udin” sebagai trending topiknya, Si “Nazarrudin (topik panas pada bulan Juli 2011).” Tetapi aku meyakini, bahwa M. Nashrudin Fadhli tidak akan di temukan di belahan dunia mana pun, dia akan tetap menjadi kawan yang setia dan baik kepada siapa pun (aku mengatakan ini karena akan mendapat traktiran mie ayam *kidding).

Sangat banyak fragmen kenangan yang paling aku suka. Aku bingung mau menulis yang mana. Waktu kelas XD tidak terlalu akrab (belum akrab), masa-masa kami dapat akrab adalah di saat duduk di kelas XI IPS A dan XII IPS D. Intinya, jika aku pernah menceritakan kenangan atau kejadian semasa SMA yang aku anggap itu keren, hebat, rame, gokil, menakutkan, bahkan kenangan yang sedih, anak ini selalu ada disetiap kejadian itu. Sama halnya dengan Irwan Dinata Saputra, Muhammad Noor Hasan, Iri Risal Mahludi, Frangky Batara Simanjuntak dan Ruly Ariawan. Tetapi diantara dari mereka memiliki kisah tersendiri, sifat tersendiri dan kenangan tersendiri, baik kenangan yang buruk atau baiknya tetap akan bermakna bagiku. Disini aku hanya menyinggung bahwa kebanyakan kegiatan selama di SMA tidak lepas dari peran mereka semua (yang tidak aku sebutkan jangan berkecil hati, ini contoh gampang saja, tidak mungkin akan aku tulis semua nama satu sekolah disini). Agar tidak keluar jalur, bahwa pembahasan ini adalah catatan untuk si Nashrudin.

Aku pernah bertengkar dengannya. Tapi aku lupa apa masalahnya. Aku yakin yang lain juga tidak akan tahu, karena pertengkaran hanya bersifat sok tidak melihat, mendengar atau mengenal lagi. Hahaha…. Intinya kami berdua sama-sama tersinggung dengan masalah sangat sepele (pertengkaran adalah bumbu biasa dalam proses sosialisasi). Aku saat itu santai-santai saja dalam menghadapi konflik kecil ini. Ujung-ujungnya pasti baikan (sama halnya dengan pertengkaran yang pernah terjadi dengan teman-teman yang lain). Jujur aku sungguh lupa apa yang menjadi penyebabnya kemaren, yang pasti tidak saling sapa selama beberapa hari. Parah…. Hampir aku melupakan sesuatu, ada fragmen yang selalu membuatku senang jika aku meledeknya. “Ternyata Nash dianggap seperti anak oleh salah seorang guru di SMAN 1 Amuntai. Siapakah guru itu? (ini sepenuhnya tidak benar, karena ini hanya candaan saja).”

Dulu, kini dan nanti. Nash menjadi sosok yang juga membuatku selalu tersenyum dalam menjalani kehidupan. Sama halnya dengan semua teman lain yang aku anggap sangat istimewa, tidak kurang istimewanya dari Si Nash ini. Hargai dan ingatlah teman-temanmu. Pada saat ini dia melanjutkan kuliah ke kota Malang. Kalau tidak salah Akuntansi Islami Syariah (biar orangnya yang menulis yang benarnya saja nanti).
“Don’t Forget Your Friends…. All your Friends….”


۞  This Is Our WãΫ  ۞
Karena ini semua adalah jalan yang harus kita tempuh bersama.

Untuk
Shinjiru, Aldaith, Albus dan semua orang yang selalu berada disekelilingku.
Kupersembahkan catatan ini untukmu dan untuk mengenang persahabatan indah di masa remaja yang kita lewati bersama di sekolah, disaat kau dulu begitu setia mendengarkan dengan tulus cerita-cerita fantasi dari sesuatu yang menggugah jiwa. Kuharap kenangan ini dapat memberikan makna untuk kehidupanmu dan atas kenangan yang akan selalu ada. Kini aku bisa dengan lantang mengatakan kepadamu bahwa aku sudah mempercayai satu hal. “Kini aku percaya kepada orang-orang disekelilingku yang selama ini memberikan segalanya kepadaku. Sebuah “PERSAHABATAN.”


۞  Short Note  ۞
Jika ada kesalahan dalam penulisan (terutama masalah nama), tidak setuju atas fragmen kenangan ini. Bisa kalian ajukan kritik dan saran langsung kepadaku (tentunya yang sopan dan membangun). Catatan ini bisa saja aku perbaiki, edit, kurangi atau ditambah karena aku tidak mungkin ingat semua fragmen kenangan dalam menulis ini. Alangkah baiknya langsung memberikan komentar dalam catatan ini. Jangan lupa, jika menyukai fragmen kenangan ini. Kasih saja “Jempol”-nya. Arigatou Gozaimasu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar