BLOGGER TEMPLATES AND Google Homepages »

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang
Kenangan Observasi Tugas Perkembangan Peserta Didik

Sabtu, 30 Juli 2011

MY SHORT STORIES in SMANSA 1 Amuntai


Seutas tali yang dipenuhi oleh ikatan bunga yang indah, teruntai dalam genggaman seseorang yang terikat dari seutas benang yang rapuh pada awalnya. Tentunya akan putus jika ditarik oleh badai dalam persahabatan.

Cerita ini mengalir bukan tentang kapan badai itu datang, bukan pula tentang dimana badai itu berasal, tetapi bagaimana cara menghadapi badai yang memutuskan untaian tali yang sudah disimpul rapi selama ini.

Setiap orang memiliki ikatan dalam kehidupannya. Sekuat apa ikatan itu, tentunya beberapa orang selalu mempertanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri. Hadirlah beberapa diantara mereka yang membawakan ikatan yang seindah untaian bunga yang sungguh memancarkan kedamaian dalam hati. Tetapi suatu saat badai pasti hadir pula.

Untuk apa hidup dalam penderitaan dan kesendirian yang pahit, jika ada sebuah ikatan persahabatan di depan mata. Untuk apa berusaha melarikan diri dari kehidupan yang sepi, jika ada sebagian dari mereka yang mengalungkan untaian bunga dalam kehidupannya. Karena cerita ini mengalir tentang persahabatan.

Karena semua berasal dari ikatan yang memang akan berada dalam keaabadian, bagaimana pun akhirnya. Cerita ini mengalir tentang kapan persahabatan itu dimulai dan dimana persahabatan itu terlahir.

Menyusun sebuah pesan menjadi rentetan cerita yang memukau  semua hati pendengarnya memang sangat sulit. Tapi kepercayaan akan memudarkan semuanya. Ini sebuah tantangan untuk melahirkan, mengharapkan dan mempersembahkan yang terbaik untuk mereka, kalian, kita dan dirimu sendiri.


            Namaku Rodhiya Noor Fajri, seorang anak laki-laki yang selalu memimpikan persahabatan yang sesempurna metamorfosa kupu-kupu. Aku dilahirkan pada tanggal 12 Juni 1993 di sebuah kota kecil bernama Alabio. Entahlah, aku menyebut itu sebagai kota atau mungkin Alabio juga seharusnya masuk dalam wilayah Amuntai, tetapi dalam akta kelahiranku bertuliskan Alabio, bukan Amuntai. Berbeda dengan kedua saudaraku Netty Agustina dan Rifqi Hidayat yang disana tertulis Amuntai, karena mereka memang dilahirkan di kota Amuntai, tempat dimana aku juga dibesarkan. “Rodhiya Noor Fajri”, sebuah ungkapan dari sinar mentari pun menghiasi namaku. Aku mengartikan namaku dalam sebuah makna yang selalu menjadi motivasi dalam menjalani kehidupanku. Semoga Allah s.w.t. selalu “meridainya dalam cahaya fazar”, inlah makna yang selalu aku simpan dalam hatiku. Di dalam perjalanan kanak-kanakku sampai aku beranjak remaja aku dihiasi oleh kelengkapan cinta yang pernah aku katakan tidak memilikinya. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa ada kesempurnaan dan keagungan cinta yang aku dapatkan dalam keluarga yang kumiliki, dari terutama orang tuaku.

Aku sosok manusia rendah yang tidak bisa dekat dengan keluarga, karena dalam perjalananku sebelumnya aku tidak merasa dekat dengan siapa pun di dunia ini. Dahulu aku manusia yang buta dengan perasaan, mungkin karena aku memiliki trauma mendalam akan sesuatu yang tidak pernah aku ingat lagi mengapa. Aku hanya meyakini inilah diriku saat ini, bagaimana pun keadaanku aku hanya salah satu dari jutaan ummat yang memiliki banyak cobaan untuk menempa diri sendiri agar menjadi lebih kuat dan berusaha mendapatkan surga-Nya. Penggambaran yang sangat pas untukku, “Aku hanya taman bunga yang mudah mati, hanya saja aku selalu menyiramnya dengan kesejukan iman yang diberikan oleh Allah s.w.t.  Kebanyakan orang memandangku sebagai taman bunga yang tidak memiliki banyak kekurangan, tetapi pada kenyataannya aku tidak lebih indah dari siapa pun orang yang pernah aku temui. Termasuk dirimu.” Aku hanya membungkus dan memasukkan sebatang coklat yang sebenarnya tidak jauh lebih nikmat dari coklat siapa pun. Hanya saja aku memasukkannya ke dalam sebuah tabung kaca yang sangat indah.
۞  ĴǚśŤ Μÿ WãΫ  ۞

Aku mulai dengan sebuah ungkapan terima kasih kepadamu yang mungkin tersesat dalam kumpulan kalimat dan tidak sedikit meninggalkan serpihan perasaan yang menggugah jiwa. Aku percaya jiwamu sedang mencari makna dalam sebuah kehidupan yang kau jalani. Banyak hal yang terjadi dalam kehidupanku dan hal yang sama juga mungkin terjadi kehidupanmu. Inilah dari sebagian tentangku yang ingin kuceritakan kepadamu. Tak ada tujuan lain yang ingin aku capai selain menginginkan satu hal darimu atas imbalan ini, yaitu makna apa yang kau dapat dariku. Semoga segala hal yang berada disekitar kita menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan.

۞  ĴǚśŤ Μÿ WãΫ  ۞

Ini tentang sedikit ungkapan perasaanku selama tiga tahun ini. Sebuah ungkapan tentang bagaimana kisahku sebagai seorang siswa SMAN 1 Amuntai. Sebuah sekolah menengah negri di Kabupaten Hulu Sungai Utara, provinsi Kalimantan Selatan. Aku akan berusaha merangkumnya dalam sebuah rangkuman perjalanan kehidupan yang aku jalani di sekeliling kalian. Ungkapan yang membuatku menangis dan tertawa. Kisah tentang keceriaanku, semangatku, kekecewaanku, kemarahan, bahkan sampai rasa sakit yang menusuk hatiku. Aku akan menceritakan segala hal yang memiliki makna dalam perjalanan ini, tanpa inisial atas semua orang yang terlibat dalam kisahku dan tanpa kebohongan yang menutupi segala hal yang membuat kisah ini menjadi topeng dari segala kejadian yang terjadi di dalamnya. Akan tetapi, aku akan memastikan akan menutupi kejadian dan cerita yang sangat buruk dan gelap. Lebih gelap dari pekatnya kegelapan malam yang pernah kurasakan. Tidak aku sangka disekitar kehidupan yang aku jalani disini memiliki banyak sisi yang kelam dan dapat aku lihat segalanya dari orang-orang disekitarku. Mereka menceritakan kehidupannya dengan kepercayaan penuh untukku. Sebuah hal yang sangat membuatku bangga akan keadaan diriku, karena dapat menyimpan rahasia pahit dan kelam itu. Aku tidak menceritakan kegelapan ini karena menurutku sebuah rahasia itu adakalanya akan menjadi sebuah rahasia selamanya.

Kisah singkat ini akan aku mulai dari tahun pertama, ketika aku beranjak menuju pintu kedewasaan yang sungguh harus ku lewati. Kisah ini dimulai dari kelanjutan sebuah sekolah yang membuatku sadar tentang berapa pentingnya ikatan persahabatan dari seorang kawan yang kini aku anggap menghilang walau aku tahu jarak kami tidak jauh. Aku pun mencari kemana arah cerita ini akan kumulai kembali. Tahun terakhir di MTsN Model sudah kelewati, kini saatnya aku menentukan kemana aku sekolah setelah itu.

“Kemana pun aku bersekolah tak apa. Aku hanya ingin mencari kedamaian di sekolah selanjutnya, dimana tidak ada persaingan sengit lagi seperti di kelas IX A di tahun terakhir waktu itu. Sebuah tempat dimana aku tidak lagi menemukan beberapa orang yang memiliki kecerdasan dan IQ tingkat atas dan elit yang memiliki obsesi untuk saling menjatuhkan. Tidak untuk mencari peringkat tertinggi, tidak untuk mengejar sebuah nilai kesempurnaan yang seharusnya unruk mencari makna di dalam pelajaran itu sendiri dan tidak untuk komunitas para pengkhianat dan pembenci persahabatan yang pernah aku temui sebelumnya dalam sebuah keadaan pada saat itu.”
Hanya ini yang aku pikirkan saat itu. Aku tegaskan, ini pemikiran yang ada di benakku pada masa itu. Ternyata semua hal yang aku pikirkan tidak semuanya benar. Karena mereka berubah menjadi sosok yang indah pada masa ke depannya.

Keputusan pertama jatuh pada SMKN 1 Amuntai, jurusan Multimedia. Seperti biasa, aku mengatakan laporanku kepada keluargaku. Orang tua setuju, tapi kakak kedua tidak setuju. Dia mengatakan.
“Kalau ikam sekolah disitu, bujurlah ikam handak jadi apa dijurusan ngintu? Amun aku pilih kada. Biar dibarii orang duit bajujuta kada milih situ dulu aku. Baik ikam ka smansa ha. Aku bahari sakolah disana bagus banar” (Jika kamu sekolah disana, apakah benar kamu mau jadi apa di jurusan itu? Kalau aku pasti katakan tidak. Walaupun dikasih orang uang jutaan, tidak aku pilih kesana dulu. Lebih baik kamu bersekolah di SMAN 1 saja. Aku dulu sekolah disana bagus sangat).
Bagiku itu komentar yang sangat aneh, dia selalu melontarkan alasan yang  sangat simple dan tak masuk akal bagiku, kelihatan dia mau promosi saja. Tapi beberapa hari aku memikirkannya. “Benar juga, mau jadi apa aku kelak, belum matang aku tentukan. Untuk masuk ke sekolah kejuruan mesti punya otak kedewasaan penuh, itu menurutku.” Tibalah saatnya aku mengambil pembaruan keputusan kedua, sebuah keputusan kemana mau melanjutkan SLTA.

Pilihan selanjutnya jatuh pada SMAN 2 Amuntai. Aku memiliki alasan khusus memilih sekolah ini. Selain semua keluargaku setuju (padahal sebelumnya mereka terekrut oleh perkataan kakakku yang menyarankan ke SMAN 1 Amuntai), itu juga karena pada saat itu aku wanti-wanti kepala sekolah SMAN 1 mau pensiun (padahal kagak dan pada kenyataannya tiga tahun lagi). Alasan lain aku memilih sekolah ini (SMAN 2 Amuntai) adalah hadirnya sebuah kenangan yang menghilang dengan suasana di Tabasan (nama salah satu wilayah yang ada di Amuntai) yang selalu membuat hatiku mencari fase-fase kenangan yang menghilang itu. Entah mengapa aku lupa apa kenangan itu, mungkin karena aku juga yang menghapus kenangan itu secara sengaja. Akan tetapi sebuah kepastian yang hakiki itu bukan sebuah kenangan tentang cinta kepada seseorang, tapi sebuah perasaan damai dan bersemangat dengan sebuah keadaan yang pernah aku rasakan sebelumnya di daerah itu, tepatnya MTsN Model Amuntai kawasan Tabasan. Mungkin jika aku meninggal kelak, daerah itu menjadi tempat yang harus kau ingat bahwa aku menyukainya. (bahwa aku menyukai tempat yang strategis untuk belajar, damai untuk merenungkan sesuatu tentang kehidupan, sunyi akan hal kebisingan yang sangat mengganggu, dan sebuah sejukan dengan rindangnya pepohonan ditambah lagi ada orang-orang yang membuatku merasa mereka selalu menyemangatiku setiap saat “Para Sahabat”).

Akan tetapi, setelah hampir tiga kali bolak–balik untuk mencari informasi pendaftaran di SMAN 2 Amuntai (bahkan aku sudah meminta formulir pendaftaran dan sedikit berbincang dengan salah satu guru disana) pilihanku kemudian dipatahkan oleh ketidaksengajaan. Sebuah ketidaksengajaan aku berjalan sendiri memilih dan memasuki sebuah sekolah, yakni SMAN 1 Amuntai. Pada hari tes masuk SMAN 1 Amuntai pun aku bingung, “Kok aku milih disini?” Mungkin ada sebuah arus yang membawaku kesini, arus yang tidak aku ketahui apa dan mengapa, aku percaya ini sugesti kakak ku itu, dengan sebuah alasan simplenya yang baru akan masuk dalam akal jika membutuhkan waktu beberapa hari untuk memikirkannya itu yang membuatku bergerak sendiri menuju SMAN 1 Amuntai. Tetapi aku juga meyakini bahwa pilihanku ini adalah keputusan yang murni dari hati karena ada sebuah kisah yang teramat istimewa di dalamnya. Setiap keputusan yang aku ambil sesungguhnya hanya arus yang aku arungi, tetapi aku selalu beruntung bisa membawa kemana kapalku harus berlayar dengan navigasi yang sudah aku pikirkan setelahnya (dadakan).

Aku ingat waktu aku mendaftatrkan diri, aku di temani oleh temanku semasa SD, Akhmad Fazar (padahal semasa SD sering bertengkar, tetap menjadi saudara kok). Anehnya dia tidak mendaftar sekolah ini, tapi bersekolah di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di kota Tanjung. Keadaan yang aneh. Padahal sendirian pun bisa aku daftar kesana. Aku tahu kenapa dia mau mengajakku daftar, pasti karena sugesti ibuku (dan aku juga tersugesti) yang kayaknya sudah terpatri dalam perbincangan dirumahnya sebelumnya (rumah kami dekat, dan orang tua kami berteman). Akhirnya dia mau menemaniku untuk mendaftar di sekolah itu.

Jujur, jika aku bertanya kepada diri sendiri apa alasan aku masuk ke SMAN 1 Amuntai jika aku jawab dengan hati “Tidak Ada, (lebih tepatnya) kosong”. Aku seperti memilih dengan yakin sebuah ruangan yang entah aku bingung apakah ada isinya dan dengan apa aku mengisinya. Hanya saja pas ditanya selama mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS) aku menjawab kepada teman-temanku atau kakak tingkatku.
“Hm…. Karena SMAN 1 Amuntai adalah sekolah terfavorite di Kabupaten Hulu Sungai Utara, dekat dengan rumah, banyak teman, dan tentunya sebuah tempat dimana aku dapat mengasah diri.” Aku kecewa aku mengajukan alasan yang sangat simple dan tidak berkualitas (sepertinya).

Perjalanan yang aku lalui di kelas XD sangat berkesan. Selama bersekolah di SMAN 1 Amuntai, aku mengikuti lima kegiatan ekstrakurikuler sekaligus. Teater, Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRA). Sesungguhnya aku merasa lebih terasah dengan kegiatan ektrakurikuler dari pada kegiatan belajar mengajar yang aku lalu setiap hari. Mungkin karena aku lebih tertarik dengan praktek ketimbang teori yang aku pikir sangat monoton, aku masih menganggap itu penting. Aku mengenal orang-orang yang kebanyakan menginspirasiku, diantaranya Aulia Khairina (the pinkers) yang selalu bersinar bak bintang namun tak melupakan sahabat-sahabatnya, dia yang selalu menjadi tempat aku mengeluh jika aku memiliki masalah tentang pemaknaan akan persahabatan pada saat itu. Frangky Batara S, yang selalu membuat suasana kelas penuh canda tawa dengan candaanya. Eddy Rahmani, orang yang membuatku berpikir, betapa sulitnya mencari kesetiaan di kehidupan ini karena ulahnya terhadap kekasih-kekasihnya (kalian pasti paham apa yang aku maksud), tapi sebenarnya aku percaya dia orang yang sangat baik. Mahrita yang membuatku memahami akan kesabaran terhadap celaan dari siapa pun (dia orang yang tabah dan kuat). Rimayanti dan Rini Maulida yang selalu memahami penjelasanku akan kehidupan dan dengan senang hati mereka mau mendengarkan aku bercerita, apapun itu (ini hanya penggambaran sebagian orang-orang  semasa XD, jadi hanya riview saja, penggambaran lengkap tentang mereka masih dalam proses).

Banyak lagi orang-orang yang sangat berharga bagiku. Hanya saja mereka terlalu spesial untuk aku sebutkan satu-persatu (nanti kalau mau request minta tuliskan apa kenanganmu dalam kehidupanku, kirim saja pesan ke Facebook-ku. Tapi itu butuh waktu lama, karena mood dan tugas yang harus diselesaikan). Pada masa ini juga aku termotivasi untuk menanamkan tujuanku masuk ke jurusan IPS. Aku ingat siapa yang membuatku bersemangat atas tujuanku ini adalah seorang guru yang sangat aku segani. Ibu Dwi Upayani dan Ibu Titik Puji W. Semoga apa yang mereka ajarkan selalu mendapatkan nilai kebaikan dari Allah s.w.t.

Hingga akhirnya aku terdaftar sebagai siswa SMAN 1 Amuntai di kelas XI IPS A dan dilanjutkan ke XII IPS D. Bagiku kenangan selama tiga tahun ini adalah sebuah fragmen kehidupan yang sangat berharga. Teramat berharga. Aku yang dahulu adalah anak yang introvert kini menjadi seorang remaja yang ekstrovert, mudah bergaul dengan siapa pun dan menganggap mereka semua yang aku kenal sebagai orang yang sangat berharga dalam kehidupanku. Ternyata ruangan yang sebelumnya aku tidak tahu apa isinya dan aku bingung dengan apa aku harus mengisinya kini terjawab sudah. Ini juga berkaitan dengan apa yang selama ini aku cari (sebagian yang sangat dekat denganku, pasti tahu apa yang kumaksud dalam pencarian itu).
“Karena ruangan itu penuh  dengan orang-orang yang sangat istimewa dan memiliki hati yang indah dimata Tuhan (aku sangat percaya akan hal ini). Sesungguhnya aku sangat rendah diri dan sedih karena aku hanya bisa mengisi ruangan itu dengan persahabatan yang sangat sederhana kepada orang-orang istimewa itu (aku akan mengatakan, bahwa kau yang membaca ini termasuk diantara dari mereka). Tetapi mereka sangat menghargaiku, menerima dan percaya padaku atas apa yang ada pada diriku (hanya toplesnya saja yang indah, bahwa isinya hanya sebatang coklat yang tidak lebih nikmat dari siapa pun).”

۞  This Is Our WãΫ  ۞
Dahulu aku meyakini, aku hanya hidup untuk diriku sendiri dan hanya akan mencintai diriku sendiri. Aku tidak akan pernah mengakui bahwa aku memiliki dan menganggap siapa pun yang dekat denganku sebagai sahabatku, mereka hanya sebatas teman. Prinsip hidup ini aku tujukan kepada semua orang yang ada disekelilingku. Semua orang. Hingga tiba saatnya seseorang yang dahulu pernah hadir dalam setiap keseharianku (aku menganggapnya teman yang sangat menyebalkan, teman yang harus aku jatuhkan, tak ada kata “kerjasama” terkecuali itu akan menghasilkan keuntungan berdua yang sama rata. Bahkan senyuman dariku hanyalah tatapan kosong yang aku hanya menganggapnya sebatas partner dalam menjalani masa-masa selama sekolah) dan akhirnya kami berpisah. Awalnya aku menikmati dan tidak memikirkan apapun tentang perpisahan itu. Tidak ada hal apapun yang membuatku merasa bersedih.
“Tidak akan ada yang mengetahui perjalanan apa yang akan dihadapi seseorang dalam perjalanan kehidupannya.”

Aku merasakan ada kehampaan dalam perjalananku selanjutnya, aku menyadari kekosongan ini adalah kesalahanku sendiri. Ini tentang “keadaan” yang mencetak prinsip itu dalam hatiku. Keadaan bahwa aku tidak pernah mempercayai siapa pun sebelumnya. Aku menyadari bahwa dia adalah sahabat pertama yang membuatku menyadari akan pentingnya penghargaan terhadap hidup.
“Pencarianku dalam kehidupan ini adalah sebuah ikatan persahabatan yang harus aku miliki. Satu-persatu usaha aku lakukan dalam mencari pengalaman tentang apa itu sebuah ikatan persahabatan. Satu orang, dua, tiga, hingga puluhan. Akhirnya pada saat ini kalian semua hadir dalam diriku.” Inilah pencarian yang selama ini sudah aku temukan. Ternyata sesuatu yang aku cari itu sangat dekat dariku. Sangat dekat.
“Hargai dan tetaplah menempatkan orang-orang yang kau sayangi disekitarmu kedalam ruangan yang paling berharga dalam kehidupanmu.”

Karena ini semua adalah jalan yang harus kita tempuhh bersama.

Untuk
Shinjiru, Aldaith, Albus dan semua orang yang selalu berada disekelilingku.
Kupersembahkan catatan ini untukmu dan untuk mengenang persahabatan indah di masa remaja yang kita lewati bersama di sekolah, disaat kau dulu begitu setia mendengarkan dengan tulus cerita-cerita fantasi dari sesuatu yang menggugah jiwa. Kuharap kenangan ini dapat memberikan makna untuk kehidupanmu dan atas kenangan yang akan selalu ada. Kini aku bisa dengan lantang mengatakan kepadamu bahwa aku sudah mempercayai satu hal. “Kini aku percaya kepada orang-orang disekelilingku yang selama ini memberikan segalanya kepadaku. Sebuah “PERSAHABATAN.”

۞  Short Note  ۞
Jika ada kesalahan dalam penulisan, tidak setuju atas fragmen kenangan ini. Bisa kalian ajukan kritik dan saran langsung kepadaku (tentunya yang sopan dan membangun). Alangkah baiknya langsung memberikan komentar dalam catatan ini. Jangan lupa, jika menyukai fragmen kenangan ini. Kasih saja “Jempol”-nya. Arigatou Gozaimasu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar