BLOGGER TEMPLATES AND Google Homepages »

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang
Kenangan Observasi Tugas Perkembangan Peserta Didik

Selasa, 14 Februari 2012

Sesulit Itukah MENGHARGAI

   Drs. Mahmud, M.Pd “Apa susahnya menghargai orang lain? Manusia memang sombong ya? Yaah,,,, sombong kepada sesama manusia saja pasti akan dikucilkan bukan? Apalagi si manusia itu sendiri yang sombong kepada Tuhan. Harusnya yaa,…. kita bukan meminta untuk dihargai orang lain tapi SALING. Enak kan kalau saling mencintai? Saling menghargai?  Kalau saya minta hargai. Ah AKU TIDAK MAU, Memang berapa harga saya? (masih membahas topik ini, beliau kemudian mengalihkan kepada topik) Ahh,,,, Kalian jangan hanya berpacu kepada MELODI saja kalau kuliah. Bukan pula perkara niat, mudah tidaknya tidak tergantung kepada NIAT, tapi PROSES kalian dalam menjalani kuliah. Yaaa… belajarlah untuk bisa mencintai walau tidak mencintai." *mata kuliah maksudnya”

    Dalam sebuah pertemuan pertama dalam sesi perkenalan. Pemikiranku hari ini “pertemuan pertama itu akan mencetak bagaimana karakter diri seseorang yang memperkenalkan diri kepada sosok seseorang dihadapannya.” Di atas pada paragraf pertama itu adalah hal-hal dari kata-kata seorang dosen bernama Pak Mahmud pada pertemuan pertama mata  kuliahBahasa Indonesia SD II di hari kedua masuk kuliah (Selasa, 14 Februari 2012). Satu hal yang menjadi obsesiku atas perkataan beliau hari ini adalah “Apa susahnya sih menghargai orang lain?”  Beberapa minggu yang lalu memang sudah ingin mempostingkan catatan yang bertema “harga.” Tapi belum mendapatkan pemikiran yang pas bagaimana memulainya. Semoga dengan catatan ini bisa membuka sedikit hati kita dalam memaknai segala sesuatunya menjadi perkara yang kita tidak terbiasa atas itu.

Indahnya Menghargai
    Sesuai tema, kita akan bersama membuka pemikiran mengenai “harga seseorang.” Ketika kita mengatakan mengenai harga, apa yang terpikir oleh kita? *pikirkanlah dulu. Jawabannya: Sebuah kepastian kita akan memikirkan menginginkan mendapatkan sebuahhal dengan modal yang kecil dan mendapatkan manfaat yang bekali-kali lipat bukan? Tapi jangan masukkan dulu teori ini. Ini hanya sebuah teori dimana seseorang menginginkan keutungan yang besar dengan menginginkan modal yang seminimalisir mungkin. *Ekonomi Teorism.

    Berbeda dengan “harga seseorang” diri manusia. Ini bukan sebuah perkara yang tidak bisa ditukar dengan materi apapun tapi “harga seseorang” juga tidak lebih mahal dari sebuah permen. Penjelasannya demikian, “kita tidak akan pernah mendapatkan sebuah hati yang penuh dan rasa penghargaan yang ikhlas dari orang lain ketika kita menghitung dan menginginkan keuntungan yang bagaimana akan kita dapatkan kelak. Ketika kita tidak memberikan sebuah modal (modal disini banyak maknanya ya?) dengan hari ikhlas kita terlebih dahulu, meskipun modal itu hanya sebongkah kecil permen yang tidak tenilai dibandingkan ketika kita memberikan sekarung permen tapi disana bertuliskan:

“KAMU HARUS MENGHARGAI ‘KU SEBAGAI UCAPAN TERIMA KASIH KARENA AKU SUDAH MEMBERIKAN MU SEKARUNG PERMEN dan…. AKU IKHLAS KOK!”

    Menurutku menghargai orang lain itu sulit. *aku tarik kata-kataku pada awal-awal paragraf ya? Karena memang perkara ini sungguh sulit, di zaman sekarang ini. Dimana tingkat individualisme masyarakat kita yang cukup tinggi. Mau bukti? Sebutkan aja siapa nama lengkap tetangga di sebelah rumahmu. Kamu tahu? OK OK,,, masih wajarlah kamu tidak mengetahui. Aku ganti saja pertanyaannya. Siapa nama lengkap kedua kakek dan kedua nenekmu? *disini aku hanya bergurau saja yosh? Jangan terlalu memasukkan ke dalam hati. Hanyacontoh sederhana dan candaan saja dalam menekankan bahwa tingkat individualisme dan ketidakperdulian terhadap sesuatu yang sederhana ini memang tinggi.

    Susah memang membentuk sebuah HABIT (kebiasaan) untuk bisa menghargai orang lain ya? Meskipun itu hanya sekedar mengucapkan terima kasih misalnya ketika kita mendapatkan bantuan dari orang lain. Begitu sulitkan?

Kita kembali membuka sebuah pengalaman, ini akan diperankan oleh sosok guru yang bagiku sangat inspiratif, memiliki ketegasan dan tidak ingin meminta dihargai oleh orang lain (siswanya). Wajar saja beliau sering memasang wajah yang agak tegas yang kebanyakan siswa ya katakan beliau “killer” (saya tidak termasuk daftar dari sebgian siswa yang mengatakan itu). Ibu Dwi Upayani (Pengajar Bahasa Indonesia) ketika kelas X SMA. Ilustrasi kejadian nyatanya demikian:

Dwi Upayani
    Saat itu jam pertama (pagi), ketika semua siswa ke depan mengumpulkan sebuah tugas cerita rakyat Indonesia pada sebuah kertas dan ternyata tugas yang dikumpulkan pagi itu harus di steples (diceklek “bahasa banjar”/di pasangkan sebuah besi kecil yang difungsikan merekatkan beberapa lembar kertas *ribetnya menjelaskan ) dengan tugas sebelumnya yang sudah dikoreksi oleh Ibu Dwi. Ibu Dwi bertanya, “Ada yang punya steples tidak?” Salah seorang mengatakan “Ada” dan dia maju ke meja depan. Dia juga dimintai membantu dalam menyusun semua tugas itu. Anak-anak lain ya diem dan sebagian bicara aja disisi lain. Tiba-tiba ada satu orang anak laki-laki yang ke depan mengumpulkan tugasnya (terlambat, mungkin dia saat itu berusaha sedikit menyelesaikan beberapa paragraf cerita rakyatnya). Anak laki-laki itu hanya melempar kertas tugas itu dan dengan jalan cepat duduk lagi ke bangkunya. Spontan aku juga kaget pada saat anak itu mengumpulkan tugasnya dengan cara itu dan Ibu Dwi yang karakternya juga tegas ngomong demikian, “Ahh !! Kalian ini pernah mengucapkan Terima Kasih  tidak terhadap sesuatu yang membantu kalian dalam beberapa hal?, lihat …. (Ibu Dwi menyebutkan nama orang yang membantu mensteples dan menyusun tugas-tugas anak lainnya) si SENSORED sudah meminjamkan steples dan menyusunkannya untuk kalian. Sedangkan kalian bersikap demikian”

 






Memberi tanpa Balas Kasih
Yang membuatku salut, beliau tidak nge’judge anak laki-laki itu dan hanya mengankat tema nasehat “bagaimana cara kita menghargai sesuatu yang sederhana dan mengucapkan TERIMA KASIH.  Sungguh masih ingat sampai saat ini. Nah, begitu sederhana memang ketika kita menghargai sebuah perkara yang wujudnya juga sederhana untuk dihargai bukan? Tapi apa ini mudah untuk dilakukan? Aku simpulkan ini tentang sebuah PEMBIASAAN (HABIT).

Aku mengetahui sebuah teori bagaimana kita menjadikan sebuah HABIT menjadi sebuah tindakan yang akan OTOMATIS dilakukan. Yakni dengan membiasakannya dalam wakti 30 hari, 95 hari akan menjadikan tindakan kita menjadi sebuah PEMBIASAAN yang sulit ditinggalkan dan  akan menjadi sebuah tindakan yang otomatis dilakukan dalam waktu ke 96 hari setelah itu. Apa ini mudah? Sulit bukan?



BAD HABIT , GOOD HABIT, It uour Choise
Begitu pula dengan bagaimana cara kita belajar menghargai orang lain. Dimana pun, praktek memang selalu lebih sulit ketika kita hanya sekedar membual saja dengan permainan kata dan lagi….. inilah kehidupan. Ketika kita merasa sesuatu hal itu sudah lebih baik dari kepemilikan orang lain kita akan lebih cenderung TIDAK menghargai kepemilikan orang lain tersebut. Sederhananya…. Anda memiliki sebuah BARANG yang harganya lebih mahal dari kepunyaan teman Anda, ketika Anda menanamkan sebuah pemikiran itu adalah BARANG Anda. Maka Anda pada saat itu juga akan menanamkan rasa merendahkan barang milik teman Anda. Bukankah demikian prosesnya kita memulai menanamkan sebuah rasa yang dinamakan “Tidak menghargai?”

Jadi bagaimana solusinya? Jawabnya MENANAMKAN sebuah pemaknaan bahwa segala sesuatu yang kita miliki saat ini bukan milik kita. Tetapi milik’Nya adalah salah satu solusi yang paling ampuh. Segalanya memang akan kita kembalikan kepadanya bukan? Sederhana dan tahap sulitnya di PEMBIASAAN. Selalu berjuanglah dalam memaknai segala sesuatunya sobat. Semoga kita bisa sama-sama belajar menjadi sosok yang bijak dalam perkara kebaikan.



Jadi, sesulit itukah menghargai orang lain? Apakah sesulit kita berusaha bagaimana menghargai diri kita sendiri? Segalanya akan mudah jika dimulai dari hal yang sederhana. *kembali menarik kata-kata nih…. Suka membolak-balikkan materi.

“Catatan Pendek”
*mengenai kata-kata dalam kalimat Bapak Mahmud lainnya selain menghargai. Maknai sendiri ya? Dalam hal ini temanya hanya bagaimana menghargai segala sesuatunya, bagaimana memulai untuk menanamkan penghargaan, bagaimana proses kita bisa tidak menghargai sesuatu hal dan bagaimana solusinya.

*Kunjungi blog ‘ku juga, karena semua postinganku ada disana ( prietenia-shinjiru.blogspot.com ) . Shinjiru artinya mempercayai dan Prietenia artinya persahabatan, ada cerita dan makna di balik kata ini. Ingin mengetahuinya? Ajaklah aku berbicara untuk membahasnya. Salamku > legatura de prietenia…..


۞  This Is Our WãΫ  ۞
Karena ini semua adalah jalan yang harus kita tempuh bersama.

Untuk
Shinjiru, Aldaith, Albus dan semua orang yang selalu berada disekelilingku.
Kupersembahkan catatan ini untukmu dan untuk mengenang persahabatan indah di masa remaja yang kita lewati bersama di sekolah, disaat kau dulu begitu setia mendengarkan dengan tulus cerita-cerita fantasi dari sesuatu yang menggugah jiwa. Kuharap kenangan ini dapat memberikan makna untuk kehidupanmu dan atas kenangan yang akan selalu ada. Kini aku bisa dengan lantang mengatakan kepadamu bahwa aku sudah mempercayai satu hal. “Kini aku percaya kepada orang-orang disekelilingku yang selama ini memberikan segalanya kepadaku. Sebuah “PERSAHABATAN.”

۞  Short Note  ۞
Sangat penting ketika Anda membaca sebuah tulisan yang berjudul “Pemberitahuan”, karena semua tujuan penulisan catatan ini ada disana dan semua catatan fragmen kenangan lain yang secara tidak langsung berkaitan antara satu dengan yang lain. Banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan, tapi aku ceritakan sepenuhnya dengan alur kehidupan yang baik kepada orang-orang yang aku mempercayai mereka. Sungguh, dalam semua ini sudah banyak hal yang bisa dijadikan pemaknaan atas cerita lain bagi orang-orang yang memiliki pemikiran yang luar biasa. Jika ada kesalahan dalam penulisan, tidak setuju atas fragmen kenangan ini. Bisa kalian ajukan kritik dan saran langsung kepadaku (tentunya yang sopan dan membangun). Alangkah baiknya langsung memberikan komentar dalam catatan ini.

Senin, 13 Februari 2012

Perubahan di Hari Pertama Masuk Kuliah. Semester II B, 13 Februari 2012

  Banyak yang sudah terjadi selama satu bulan ini. Semenjak liburan seusai final tes pada “minggu tenang” tanggal 29 Desember 2011 dan liburan semester secara resmi dinikmati seluruh mahasiswa PGSD UNLAM pada tanggal 9 Januari 2012 hingga masuk kuliah lagi pada tanggal 13 Februari 2012. Sepertinya liburan yang pertama kali dirasakan oleh anak-anak semester I yang pertama kali berada di bangku kuliah ini terlalu berlebihan, Karena kalau dikatakan liburan semester yang biasanya dinikmati semasa SMA paling bantet hanya seminggu saja. Nah, apa perubahan yang terjadi pada anak-anak kelas I semester B dan apa komentar mereka mengenai libur panjang ini?

Tapi berbeda menurut pendapat Teti Tirna katanya liburan ini masih sangat sebentar dan berikut hasil wawancara hati ini dengan Mbak Teti:

*Semenjak libur  pada tanggal 9 Januari 2012, hingga masuk kembalipada tangg 13 Februari, apakah menurut mbak ini terlalu lama?
Teti Tirna : “Sebenarnya menurut saya sangat sebentar (jika) pihak dari kampus memberikan dan pemberitahuan yang  jelas dan pasti, tapi liburan kali ini terbuang dengan begitu saja, (seandainya) saja pihak kampus lebih tegas memberikan kepastian mungkin waktu libur tu bisa diisi dengan baik. Contohnya kayak mencari pekerjaan, tapi karena sedikit kepastian itu membuat keraguan untuk melakukan kegiatan yang terjadwal. (Aduh, takut besok, lusa atau minggu depan sudah masuk kuliah lagi dan lag-lagi whatever lah segala te tek bengek yang membuat kita hasus bolak-balik Banjarmasin – Banjarbaru untuk bayar biaya administrasi. (Kenapa ngak kampus sini saja, di kolektifkanlah…) Teman ku di kampus lain ada yang liburnya 2 bulan lebih dan pengumumannya dengan jelas dan pasti).

*Apa yang Anda lakukan semenjak liburan ini?
Teti Tirna : Nothing spesial mas, hanya tidur, makan, nonton, jalan-jalan, ke warung  (bantuin kalau sibuk) beres-beres rumah. Kagak ada yang jelaskan?

    Kalau menurutku sih ini memang kegiatan yang jelas dan bermanfaat, kenapa mbak Teti mengatakan ini tidak jelas ya? Waahh… merendah aja nih mbak?

    *Mbak, ini bukannya pengalaman pertama menjalani masa perkuliahan? Apa pendapat Anda tentang PGSD Banjarbaru?
Teti Tirna : Yah,,, di kampus males aja belajar mas, (apalagi kalo disuruh presentasi sendiri tanpa ada dosen) Kenapa sih dosennya jarang masuk? (curhatan pribadi nampaknya nih) kenapa sih kelasnya harus di gabung menjadi 2 kelas (120 mahasiswa dalam satu ruangan pengajaran) yang di depan manggut-manggut (ngak tahu memperhatikan apa ngak) yang di belakang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Kalau senam kenapa sih di kampus ini kagak pagi aja, biar sehat kagak sore… kan gosong? Entahlah ini menurut pendapatku saja. (belajarnya tidak menyenangkan, belajarnya kurang)  Kata tanteku, “Yaa wajarlah kampusnya murah… “ Yakin pembiayaan kita tidak lebih murah dari kampus lain? *rata-rata sama saja.

    Jawaban mbak kali ini banyak setujunya…. Memang sebuah instansi, organisasi atau perkumpulan apapun pasti memiliki berbagai masalah yang belum bisa di tuntaskan. Apakah ini kesalahan sistem atau SDM’nya. Sebagai mahasiswa yang ingin menjadi mahasiswa sederhana (memiliki pemaknaan lain) ya kagak ambil pusing dah. Yang penting kerjakan yang di wajibkan.

    *Tentang nilai, apa pendapat Anda dengan adanya keterlambatan dipublikasikannya nilai final tes yang lamaaaaa baru keluar?
Teti Tirna : Ahh,,, Whatever  lag aja deh… EGP. “aku seneng tuh di’sms’in ama temenku, yang sudah lama tidak ada kontak.  Pas lagi-lagi anak-anak tuh sms’in eh dia nanya. > IP kamu berapa? *melongo aja reaksiku… meneketeng-teng lah dengan niali gua apa dan bagaimana.

Mbak Teti dengan Senyumnya
    Ada lagi hal istimewa yang mbakTeti katakan pada saat membahas masalah nilai ketika mengambil Flashdisk ke rumah di suatu siang. *lupa hari apa. Kata Mbak Teti, “Nilai tidak menentukan sebuah hasil akhir ya mas? Tapi melihat prosesnya yang sebenernya harus kita lihat bagaimana.”

    *Apa hari ini Anda sudah siap kuliah? Berhubung segala kegiatan sudah aktif.
Teti Tirna : TIDAK, sangat TIDAK SIAP. Kenapa keadaaan tuh membuat aku masuk kuliah? Padahal aku lagi ngak mood masuk kuliah (kecapaian habis ada acara) Sedangkan pas pengen masuk, liburnya di undur. > SIAP BELAJAR?? Haaa,,, bukannya hari pertama itu tenang dulu ya? Nyiapin fasilitas untuk kegiatan pembelajaran??? OK aku siap deh, tapi apa pihak kampus sudah SIAP, menyiapkan segala pendukung fasilitas pembelajaran (kayaknya habis efek bawa-bawa kursi dari ruang lain ke ruang  lainnya untuk mengikuti perkuliahan gara-gara bangkunya tidak cukup).

    Lain mbak Teti bukan lagi Hendra Lukmana Saputra. Sahabat kita yang gokil kita ini mengaku bahwa liburan ini terlalu panjang, katanya. Pemuda yang sering di sapa Hendra (Ihen) ini memiliki jadwal yang padat dalam hal pentas Habsy. Katanya sih sudah pentas lebih 15 kali dalam bulan ini. *buanyaknya… Sama halnya dengan Mawaddah dan Redha Ar-Rahim yang dari cerita-cerita hari ini juga memiliki kegiatan manggung yang sama. Ini nieh pemuda generasi yang bisa dijadikan contoh oleh anak-anak lainnya yang hanya sekedar mangut-mangut di rumah kagak karuan (Jika ada daftarnya kemungkinan besar saya juga dalam pemuda yang mangut-mangut saja di rumah selama sebulan ini *PlAkk!!)

Asyik dengan BBM nieh Hen? :)
     Jika ditanya apa yang baru dari Hendra, mungkin kayaknya dia menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Agak pendiam dan apa yang baru darinya?
“Hen, kam bagundul kah? Astaga, kenapaam jadi begundul? (Hen, Kamu potong rambut jadi gundul ya? Astaga, kenapa jadi gundul?)” Hendra, “Aku umpat hasby pang Rud. Jadi pas aku dibawae bahabsy di suruh urang begundul (Aku kan ikut Habsy Rud, jadi ketika aku di ajaki habsy ya di suruh untuk potong rambut jadi gundul) Eh Rud, Nieh lihat *nentengin Blackberry.” Rodhiya “Bueeehh…. Hape baru....!!” Sudah tahu apa yang baru bukan? Bukan palanya yang baru tapi HP’nya….  (becandanya jelek).

Lain Hendra lain lagi mbak Metaa Jamayanti. Wanita dengan sapaan Metaa ini kayaknya tidak terlalu mempersoalkan panjangnya liburan kali ini. (Dia sudah tahu gimana PGSD dan selak-beluknya, dari gimana program



Hendra dan Tarbang kesayangan
kuliah dan gimana kalau libur) Wajarlah, kalau rumah saja sangat dekat dengan kampus. Yaa,,, kalau ngesot 5 menit aja sampai lah ke kampus. Meta yang juga sahabat Miraa Rahmida yang juga rumahnya berdekatan ini mengatakan bahwa dia sakit dalam menjalani masa-masa akhir liburan, katanya diare dan muntaber karena gara-gara makan siomay yang keliling PGSD. *mencurigakan tu Paman Siomay, terakhir saya yang juga makan sioamay di akhir liburan juga harus mengganti ban dalam belakang sepeda motor karena bocor (kayaknya siomay dalam liburan kali ini tidak mendapatkan ratting yang cukup baik dimataku dan mbak Miraa). Kembali ke Metaa, katanya dia mengaku memang cukup bosan dalam menjalani liburan. Kerjaan ya makan, beres-beres, solat, nonton TV dan makan lagi. *padet juga jadwalnya sebenernya kalau di pikir-pikir lagi.

Senyuman yang Khas
      Lain Meta, lain lagi Silaturahmi (kata yang dipakai dalam menggantikan topik kayaknya ini trus). Mahasiswa yang sudah pulkam ke Amuntai pada awal-awal liburan kemaren kini mengalami perubahan pada berat badannya. Sejak liburan nie anak memang bertekad serius mau ningkatkan berat badan. Ini yang bikin aku sakit hati…. “Kenapa berat badanku kagak berubah juga?” *dilema. Mencurigakan nie Ami, ngambil lemak dari mana. Kata-kata Ara dan Mbak Yuni juga menyakitkan, “Mbak, mas agak gemukan bukan” Komentar yang sama dari mereka, “Hmm… (pada saat Hmm… sudah ngarep jawabannya Ya) Ah, kagak mas. Biasa aja” Ngedrop dah jadinya….

    Apapun yang terjadi hari ini, inilah sedikit gambaran tentang kami. Mahasiswa baru semester II B, UPP PGSD Banjarbaru. Aku hari ini sangat tidak enak dengan kebanyakan orang di kelas hari ini. Karena ada sedikit yang berubah juga dengan penampilanku di mata mereka. Padahal sudah sedari dulu dengan ini. Hm… waktu akan membiasakan pandangan mereka. Salam….

Bagaimana dengan liburan Anda?

“Catatan Pendek”
*Dengan sungguh-sungguh. Terima kasih banyak atas partisipasinya membeli dan menyumbangkan uang 3000,00 untuk kalender tadi siang pas sepulang kuliah (lagi-lagi kalender leh? Sebenernya kalendernya sudah sangat lama mau dibagikan "sebelum si kalender 18.000 yang  WAJIB itu, tapi karena liburan) dan uangnya lebihan 5000,00 yang seharusnya 125.000,00. Semoga amal ibadahnya di terima. Ini stok terakhir.... Jd program waqaf Al Qur'an KISPAnya katanya sudah berakhir.

*Mengenai kisah Masjidil Aqsa dan Imam Mahdi akan diceritakan oleh orang yang lebih memiliki pengetahuan.Maafkan tadi hanya sempat menceritakan secara garis besarnya saja. Itu pun banyak yang tidak paham ya??

۞  This Is Our WãΫ  ۞
Karena ini semua adalah jalan yang harus kita tempuh bersama.

Untuk
Shinjiru, Aldaith, Albus dan semua orang yang selalu berada disekelilingku.
Kupersembahkan catatan ini untukmu dan untuk mengenang persahabatan indah di masa remaja yang kita lewati bersama di sekolah, disaat kau dulu begitu setia mendengarkan dengan tulus cerita-cerita fantasi dari sesuatu yang menggugah jiwa. Kuharap kenangan ini dapat memberikan makna untuk kehidupanmu dan atas kenangan yang akan selalu ada. Kini aku bisa dengan lantang mengatakan kepadamu bahwa aku sudah mempercayai satu hal. “Kini aku percaya kepada orang-orang disekelilingku yang selama ini memberikan segalanya kepadaku. Sebuah “PERSAHABATAN.” 





Berikut beberapa foto yang sempat diambil pada saat perkuliahan pertama. Pendidikan Ilmu Sosial Dasar dan Budaya Dasar.




Sabtu, 11 Februari 2012

Ketika Aku Ditanya, APA CITA-CITA HIDUPMU

    Martapura, dekat perbatasan kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sabtu, 11 Februari 2012, pukul 5 sore. Ketika hati ini tergugah untuk membagikan kisah hidup yang semoga berharga untuk orang lain dan sebagai penyemangat diri untuk menjalani kehidupan KINI dan NANTI.

    Sedari tadi malam hingga sore ini memikirkan pertanyaan ini, “k' Rodh, sbnarnya apa cita - cita anda di dalam hidup ini ? dan dari sekian banyak kenangan - kenangan dan cerita - cerita dari seluruh dunia yang telah terjadi, apa yang akan anda lakukan di masa depan nanti terhadap diri anda sendiri, teman anda, dan generasi penerus bangsa ini ?” Sebuah pertanyaan yang diberikan kepadaku oleh seorang adik kelas yang ‘ku tahu dia termasuk karakter orang yang “pemikir.” Dari sekian banyak pemikiran yang bermunculan sejak tadi malam, sejujurnya aku bingung dari mana memulai untuk menjawab pertanyaan ini. Bukan karena tidak bisa menjawabnya secara langsung pada sebuah komentar di jejaring sosial itu, tapi tentu aku akan memaknai pertanyaan itu sebagai perkara yang TIDAK bisa di jawab dengan jawaban “ini dan “itu” saja.

    Mempostingkan jawaban ke dalam sebuah catatan ini bukan bertujuan karena untuk mengumbar sesuatu yang akan dipandang sinis oleh banyak orang, tetapi dengan postingan ini aku akan siap menghadapi berbagai pardigma yang berbeda dari orang lain dan aku berharap akan ada banyak “pemikir” lagi yang bisa mengkritik jawaban atas tingkatan kadar BENAR atau TIDAKnya tujuan hidup yang kumiliki. Berusaha menjadikan segala gaya bahasa dan pemikiran ini menjadi sebuah hal yang asalnya tulus dari hati dan untuk bisa dibagikan bagi orang lain.

    Menjadi seseorang yang benar-benar baik dimata Tuhan dan orang lain, itulah cita-citaku. Jika aku menjawabnya ingin menjadi seorang guru yang profesional dibidangku, merubah sistem pendidikan menjadi sebuah pemikiran yang Islami atau ingin menjadikan anak-anak didik ‘ku memiliki ideologi yang jelas dalam memaknai dunia dan mengaitkannya ke sisi Islam, itu jawaban lain. Karena aku ingin menuntaskan pemikiran ini terlebih dahulu. Aku ingin terlebih dahulu menjawab pertanyaan ini dari segi si penanya (dari segi pemikiran orang yang memberikan pertanyaan tentan tujuan hidup), bukan dari segi kehidupanku. Aku merasakan dia mengalami sedikit “bingung” bagaimana cata memaknai kehidupan dan semoga saja akan terbantu dengan pemikiran ini.

Memang terlalu umum memang jika aku menjawabnya dengan jawaban itu (Menjadi seseorang yang benar-benar baik dimata Tuhan dan orang lain, itulah cita-citaku.), tapi sungguh ini menjadi dasar cita-cita yang ingin aku wujudkan kini atau nanti. Kenapa aku katakan KINI dan NANTI, karena kehidupan merupakan sebuah proses yang harus dijalani sedikit demi sedikit. Mengalirlah….! dengan selalu berbuat kebaikan. Pemikiran ini dibuka pertama kali oleh seorang guru bahasa Jerman pada kelas XI, Frau Ika. Beliau mengatakan :

“Mengalir sajalah seperti air, kehidupan adalah sebuah proses yang harus kita jalani tahap demi tahapnya. Kita tidak mungkin bisa mendapatkan nilai yang bagus di semua pelajaran kan? Yaaa…. Mulailah dengan berusaha dengan maksimal dengan pembelajaran yang mudah. Apa mata pelajaran yang mudah bagi kalian?” Salah seorang menjawab “Seni Kriya Kayu Bu!” *salah satu pelajaran yang cukup mudah dan asyik pada saat itu. Frau Ika menjawab, “Nah, yaa… Mulailah dengan itu.”

*banyak pembelajaran atas kebaikan yang tidak disadari kita miliki saat ini (contoh kecil, darimana kau bisa belajar membaca?). Jadi aku ungkapkan pemikiran ini dengan mencantumkan siapa saja yang mengajarkanku atas kebaikan dan kebaikan ini akan berguna bagi orang lain.

Pada pemikiran yang lebih jauh lagi tentang mengambil tindakan mengalir seperti air. Jujur saja, beberapa waktu yang lalu aku sedikit mengatakan pemikiran ini salah untuk diterapkan. Alasannya bukannya jika kita menerapkan tindakan untuk mengalir seperti air itu bak (bagaikan) orang yang tidak memiliki tujuan hidup? Bisa saja kita mengalir ditahapan kehidupan yang rendah bukan? (pada pemikiran ku saat itu kehidupan yang dipandang rendah oleh orang lain bukannya dari sisi Tuhan) Tapi semakin banyak hari yang kulewati, dalam berbagai kisah kehidupan selanjutnya yang aku lalui juga berbagai pemikiran yang Allah berikan sebagai pencerahan bagaimana aku bisa memaknai kehidupan sedikit lebih jelas lagi. Aku kemudian menyadari pemaknaanku sebelumnya SALAH telak.

Memaknai apa yang dikatakan Frau Ika dalam pemaknaan “mengalirlah seperti air” itu demikian: Kita memang dituntut untuk memiliki sebuah tujuan yang luas, dahsyat, membanggakan dan jelas pada saat kita benar-benar dewasa nanti. Maksud sederhananya seperti ini, tentang tahapan kehidupan ketika kita berusaha menjalani kehidupan dengan usaha sendiri nanti seperti mendapatkan pekerjaan, mencari pasangan dan perkara sejenisnya. Tetapi apakah itu akan kita lompati dengan satu langkah saja? Tidakkan? Sekali lagi, kehidupan adalah sebuah proses yang harus kita lalui tahap demi tahapnya. Sekarang hitunglah berapa banyak orang yang menyalahkan tindakan hidup mengalir seperti air ? Sudahkan Anda merubah pemikiran ini?

Nah, ketika kita mendapati segala usaha yang kita lakukan pada tahapan-tahapan itu menghadirkan keadaan yang buruk bagi kita. Jangan merasa terpuruk pada suatu keadaan itu. Manusia memang tidak pernah lepas dari perkara yang disebut “terpuruk/meratap.” Karena air juga tidak selamanya akan melewati bidang yang menurun dan datar kan? Ada kalanya disaat kita mendapati diri kita berada dalam sebuah kedaan yang menanjak dan kasar untuk dilewati.  Ketika cita-cita dan tujuan hidup kita juga didapati sebuah gejala yang rendah dimata orang lain. Jangan pernah untuk masuk ke pemikiran yang lebih dalam tentang keterpurukan bahwa tahapan kita itu rendah di mata manusia. Masih ada yang lebih objektif bisa menilai bagaimana usaha dan bagaimana cara yang kuta lakukan dalam menjalani tahapan-tahapan sulit itu.

Selalu belajarlah untuk bisa bersahabat dengan keadaan. Sederhananya, kita mungkin sering kesal dengan keadaan yang memubuat kita terpuruk, pada saat kita didapati kehilangan dompet misalnya atau basah dikarenakan pengendara mobil yang ugal-ugalan. Kenapa kita tidak tertawakan saja keadaan itu maka itu akan mudah. Toh itu sebuah takdir yang sudah kita dapati, menerimanya yang sering sulit untuk dilakukan. *maknailah kepada hal yang terjadi pada Anda kini.

    Kesalahan manusia dalam menjalani kehidupan adalah karena salah kaprah dalam bagaimana menjalani tahapan kehidupannya. Meski manusia juga memiliki kadar keburukan yang sulit untuk dipahami satu dengan yang lainnya dan kadar keburukan itu juga pasti berbeda dan inilah yang terjadi pada kenangan –kenangan dan cerita-cerita yang pernah terjadi dimasa lalu atau kini. “Dari sekian banyak kenangan dan cerita yang telah terjadi di dunia,” aku mengartikan kalimat yang ada dalam pertanyaan itu sebuah pemaknaan yang menuju kepada sejarah negatif yang sudah pernah terjadi atau yang sedang terjadi kini. Apakah perlu disebutkan semua itu? ‘Ku pikir tidak.

Sekarang aku akan menjawab dari segi kehidupanku untuk pertanyaan ini. “k' Rodh, sbnarnya apa cita - cita anda di dalam hidup ini ? dan dari sekian banyak kenangan - kenangan dan cerita - cerita dari seluruh dunia yang telah terjadi, apa yang akan anda lakukan di masa depan nanti terhadap diri anda sendiri, teman anda, dan generasi penerus bangsa ini ?”

Jika ditanyaakan sebuah cita-cita. Semasa kecil aku sering ditanya, “Rodhiya, Apa cita-citamu?” Aku pun dengan lantang menjawab “Aku ingin menjadi astronot, karena aku bisa terbang dan menjelajah ruang angkasa juga galaksi.” Yah, sebuah jawaban polos yang sering kita dengar, sampai saat ini jika kita menanyakannya kepada anak kecil.

Pada umur 7 tahun aku ditanya lagi “Rodhiya, Apa cita-citamu?” Jawabanku pun pada saat itu sudah berubah, jawabku “Aku ingin menjadi seorang polisi atau mungkin tentara.” karena aku pikir aku mungkin bisa menjadi seorang pahlawan yang memiliki jasa mulia dan akan selalu dikenang dan diceritakan sepanjang masa dan pemikiran bahwa polisi dan tentara yang memegang sebuah pistol itu sangat keren pada masa itu, tidak ada yang lebih keren pokoknya selain polisi atau tentara. Yah, jawaban ketika aku berumur tujuh tahun ini tidak lagi mengatakan aku ingin menjadi seorang astronot karena hal itu sangat tidak mungkin aku capai pada kenyataannya.

Pada umur 15 tahun aku kemudian ditanya lagi dengan pertanyaan jauh berbeda dan kompleks. Tepatnya ini tidak ditanyakan oleh orang lain, tapi kini diriku sendiri yang menanyakan ini, mungkin pada saat itu puncaknya pencarian jati diri. Tapi kali ini banyak pertanyaan yang memembuatku bingung dan jawabanku pun lagi-lagi berubah.

“Rodhiya, apa cita-citamu? Apa impian dalam kehidupanmu? Apa motivasi hidupmu? Apa ambisimu? Dimana letak semangatmu?”

Coba tebak, apa jawabanku? Pada saat itu aku hanya menjawab.
“Aku hanya ingin menjadi seorang sahabat yang selalu menghargai persahabatan, memimpikan memiliki seorang sahabat yang selalu menghargai persahabatan, mencari seorang sahabat yang juga selalu menghargai persahabatan dan akan selalu tersemangati oleh sebuah ikatan persahabatan.”
*ada kisah tersendiri kenapa aku menjawabnya dan menanamkan dengan paradigma ini dalam menjalani kehidupanku pada saat itu. Aku sudah sering menceritakan hal ini pada beberapa orang yang kupikir aku sudah dekat dengan mereka. Ku pikir sampai mereka sudah tahu betul atau mungkin sampai bosan tentang bagaimana pemikiranku tentang perkara “persahabatan” yang unik dan tentang hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Jawaban yang sangat aneh atau mungkin dipandang orang tidak masuk akal. Tetapi pada saat ini, disaat umurku sudah beranjak dewasa, karena dan gara-gara jawabanku, tindakanku menghargai persahabatan dan bagaimana aku sering bersikan pada saat itu dan kini, aku dihantarkan oleh jawaban yang membuatku sangat yakin aku bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan sebenar-benarnya jawaban yang berasal dari hati nuraniku. Aku sekarang menemukan semua jawaban itu, tentang apa cita-citaku, apa impian dalam kehidupanku, apa motivasiku, dan apa semangatku.

Aku ingin menjadi seorang guru yang InsyaAllah akan selalu berusaha bertawakal dan berikhtiar untuk menjadi sosok yang profesional dan teladan bagi orang lain dan seluruh peserta didikku. Menjadi sosok yang sederhana dalam menjalani kehidupan dan bahagia atas kesederhanaan itu. Ingin menjadi seorang guru yang profesional dibidangku dengan merubah sistem pendidikan dari hal yang terkecil menjadi sebuah pemikiran yang Islami dan ingin menjadikan anak-anak didik ‘ku memiliki ideologi yang jelas dalam memaknai dunia dan mengaitkannya ke sisi Islam. *apa ini sudah menjawab apa yang akan aku lakukan terhadap diriku, teman-teman dan orang lain juga generasi penerus nanti ya? (Kakak menjadi guru Sekolah Dasar dik, jadi pastinya akan berdampak kepada generasi penerus bukan? Semoga kakak dan adik bisa menemukan pemaknaan jawaban atas langkah yang kakak tempuh saat ini.)

Dalam jawaban di atas pun memiliki pemaknaan lain. Bukan terlalu berambisi (bukan karakter orang yang ambisius) menjadi seorang guru profesional dengan mendapatkan sebuah penghargaan menjadi guru yang banyak mengukir prestasi dimata banyak orang, tapi akan mencoba mengukir sebuah prestasi itu menjadi sebuah kepuasan tersendiri dalam menjalani kehidupan. Inginnya sih setelah kuliah selama 4,5 tahun setengah ini langsung ingin mendaftarkan diri di Indonesia Mengajar. *sebuah program yang di tujukan kepada tenanga pendidik yang akan mendapatkan pelatihan menghadapi masa satu tahun mengajar di tempat terpencil. Semoga saja sesuai rencana. Tentang bagaimana kehidupan selanjutnya setelah menjadi seorang guru? Mengalir saja…. Untuk tahapan ini, masih banyak proses yang akan di lalui.

Diri ini masih jauh dari tahap “SIAP”  untuk mengajar dan terjun ke dalam dunia pendidikan. Semoga dengan sisa perkuliahan ini semoga akan mengalami sebuah proses yang akan dicetak oleh Allah dalam sebuah alur yang akan disiapkannya nanti. Apapun itu segalanya saat ini sungguhlah MUDAH tahapan ini untuk aku lalui karena aku memiliki banyak sahabat dalam satu kelas perkuliahan yang selalu mengerti bagaimana pola pikir dan sikapku terhadap kehidupanku dan mereka.

Mengenai sahabat dalam tahapan ini, aku cukup merasa kecewa karena ada salah satu teman sekelas yang katanya ingin pindah jurusan. Aku bingung dan belum sempat menanyakan alasan apa yang akan dia utarakan jika aku katakan “Mengapa?” Entahlah, dari sisi ini aku masih berpikir dia sangat pantas untuk menjadi seorang sosok yang tauladan bagi orang lain, yakni menjadi seorang guru. Apakah dia masih bingung dengan cita-citanya atau bagaimana. Masih berupa sebuah pertanyaan yang ada di dalam benak hati ini.

Sekali lagi, memaknai segala sesuatunya memang sulit dilakukan dari pada untuk hanya sekedar dikatakan saja. Bagaimana dengan tujuan hidup Anda kini? Sudahkah Anda mamaknai beberapa tahapan yang kini Anda hadapi dan menjalaninya dalam sebuah proses yang padu dengan beberapa kesulitan hidup dengan OPTIMISME ?

Satu pemikiran lagi yang ingin aku jelaskan bagaimana asumsiku. Aku pernah dikatakan oleh salah seorang sahabat bahwa hidup sederhana itu tidaklah mungkin lakukan dengan keadaan dunia yang sulit kini. Tapi pemikiran yang aku utarakan HIDUP SEDERHANA itu bukan seperti orang yang tidak memedulikan apa saja yang terjadi kini dan dahulu tentang DUNIA. Tapi tahapan sederhana ini yang ingin aku tekankan. Sulit memang untuk menjelaskannya….


“Catatan Pendek”

*sebuah catatan yang ditujukan untuk menjawab sebuah pertanyaan yang menggugah diri ini kepada sorang yang ku pikir dia seorang yang “pemikir”. Semoga bisa bermanfaat juga untuk orang lain. Setelah di review kembali, tepatnya ini tidak disebut sebagai catatan ya? Begitu panjaaang…, kuyakin tidak banyak orang yang bisa menghabiskan sampai tahapan akhir paragraf ini. Anda? Aku ungkapkan sebuah terima kasih sudah membaca dan kuyakin bisa memaknainya secara menyeluruh hingga tahapan ini. Apresiasi yang besar ya? Anda karakter seorang PEMBACA ULUNG.

*sebenarnya penulisan ini sudah ingin dimulai sejak pukul 10 tadi malam (sudah berusaha menggoreskan beberapa pokok paragraf kecil), tapi karena bingung dalam menentukan jawaban dari segi dan cara yang bagaimana, maka penulisannya ditunda. Dimulai lagi dengan hati yang mantap menulis dua buah catatan dalam kerja MS. WORD yang berbeda pada jam 11 siang. Setelah beberapa jam menulis (sampai pukul 1 siang) Terukir dua buah catatan, satu catatan untuk muka khalayak yang berisi pemikiran umum dan satu buah catatan untuk si penanya yang berisi hal-hal pribadi yang patut untuk diceritakan, tapi lagi-lagi ada kendala yang sulit untuk digeser. Terlalu ambigu saja catatannya jika mengaitkan ke pengalaman pribadi “pikir ‘ku.” Semoga saja ada kesempatan dan keadaan lain yang akan menghadirkan ini bisa diwujudkan. Entah apakah nanti akan dadakan mengirimkan catatan itu kepada penanya atau tidak sama sekali, keadaan yang akan menjawabnya.

*baca kembali kalimat ini, Ketika hati ini tergugah untuk membagikan kisah hidup yang semoga berharga untuk orang lain dan sebagai penyemangat diri untuk menjalani kehidupan KINI dan NANTI. Pada kalimat penjelas di paragraf pertama aku menggunakan kata kapital pada kata KINI dan NANTI sebagai makna kehidupan di selama di dunia dan kehidupan kitan kelak di akhirat, semoga ada yang bisa memaknainya sebelum mengetahui kejelasannya adi catatan pendek ini.

*Frau Ika. Frau artinya Ibu, dalam bahasa German.

*Ada pertanyaan yang khusus di tujukan kepada penanya. “Kenapa Anda sampai kepada sebuah pemikiran sehingga menanyakan hal ini ya kepada kakak?” Jawab saja kapan pun. *penasaran saja.

*Spesial Note untuk penanya. (kau juga boleh membacanya sob) mungkin kini Anda sedang bingung dalam menentukan cita-cita, mohon… jalanilah dulu tahapan yang kini Anda hadapi saat ini dengan bijak dan penuh penerimaan terhadap keadaan yang akan diterima kelah. Masih ada sisa satu tahun lagi kan untuk menentukan pilihan masuk ke perguruan tinggi mana? Ya berusahalah, “Tanamlah Padi, maka kau akan dapatkan Rumput, tidak untuk sebaliknya” Jadi jangan hanya mengejar dunia osh? Kakak pernah menjadi sosok yang sangat berambisius dan ku sadari itu sungguh menyakitkan. Juga akan lama untuk bisa menerima bagaimana keadaan selanjutnya yang pernah kakak terima.

*diselesaikan pukul 07.45 malam, dengan sambil melaksanakan berbagai rutinitas wajib lainnya.
۞  This Is Our WãΫ  ۞
Karena ini semua adalah jalan yang harus kita tempuh bersama.

Untuk
Shinjiru, Aldaith, Albus dan semua orang yang selalu berada disekelilingku.
Kupersembahkan catatan ini untukmu dan untuk mengenang persahabatan indah di masa remaja yang kita lewati bersama di sekolah, disaat kau dulu begitu setia mendengarkan dengan tulus cerita-cerita fantasi dari sesuatu yang menggugah jiwa. Kuharap kenangan ini dapat memberikan makna untuk kehidupanmu dan atas kenangan yang akan selalu ada. Kini aku bisa dengan lantang mengatakan kepadamu bahwa aku sudah mempercayai satu hal. “Kini aku percaya kepada orang-orang disekelilingku yang selama ini memberikan segalanya kepadaku. Sebuah “PERSAHABATAN.”