BLOGGER TEMPLATES AND Google Homepages »

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang
Kenangan Observasi Tugas Perkembangan Peserta Didik

Minggu, 31 Juli 2011

Fitriani PRIETENIA


 “…. penderitaan telah sirna, ….demi menggapai puncak kemuliaan bangsa” Setelah potongan kalimat demi kalimat terucap dari setiap sudut perasaan kami. Di dalam sebuah konsentrasi penuh atas penempatan karakter yang terukir dalam setiap hati pemain, sore itu. Lapangan tennis SMAN 1 Amuntai. Aku melihat kedua telapak tanganku dengan tatapan yang sangat sinis. Kaki ku pun mulai melangkahkan secara perlahan ke arah seseorang dengan perasaan kebencian, amarah dan kekecewaan.

“….(kenapa orang itu berubah arah dan berlari ke arah lain?).” Napasku semakin sesak, genggaman tanganku semakin kuat atas perasaan ini. Dihadapanku hanya tersisa satu orang yang menatapku dengan perasaan yang sama. Kebencian, amarah dan kesedihan yang ada dalam kisahnya. Aku gemetar, langkahku semakin berat. Tapi aku tetap berusaha berlari walaupun menanggung perasaan yang lebih berat dari memikul sekeranjang batu dipunggungku.

“Hyaaaaaa!!!!” Aku berteriak ke arahnya. Aku percaya geraman ini membuat hati orang yang berada di depanku bergetar dan bermakna bahwa aku akan menyerangnya setelah aku berlari ke hadapannya.

Semua orang yang berada di lapangan itu kini saling berhadapan dan memiliki lawan atas perasaaan kebencian yang terlahir dari kisahnya masing-masing. Begitu pula denganku, kini aku berada tepat dihadapan wanita itu. Ku dorong tubuhnya dengan keras, ku teriakkan geraman yang lebih keras tepat di wajahnya. Kepalan tanganku pun ku tujukan tepat di wajahnya.

“Haaahh!!” Wanita itu juga mencoba berteriak dan menatapku dengan penuh perasaan benci. Dia mencoba membalas doronganku dan memasang kuda-kuda bertahan tepat disaat aku akan menyerangnya dengan kepalan tanganku.

“Hahahaha…..” Tiga orang di belakang kami tertawa dengan santainya setelah melihat akting kami berdua (aku dan Fitri). Ibu Dwi Upayani, Tika Fitriyanti dan Ana Ramaida. Beberapa orang diantara kami yang sempat melirik apa yang kami lakukan sebelumnya juga mulai tertawa. Namun masih ada saja dua orang yang saling berteriak, tinju dan menangkis serangan yang dilancarkan masing-masing lawannya. Dua orang itu Muhammad Faisal Qurtobi dan Muhammad Yulianoor. Sepertinya mereka berdua menikmati pertengkaran itu walaupun semua orang sudah menghentikan aktingnya setelah diserukan aba-aba berhenti oleh Ibi Dwi. Aku heran, mengapa mereka semua tertawa. Ternyata aku menghadapi lawan yang salah. Ini gara-gara Tobi yang merubah  arahnya, terpaksa aku melawan seorang wanita yang tersisa dihadapanku. Seharusnya Tobi berlari ke arahku dan dia yang menjadi lawanku. Seperti biasa dia selalu tidak berkonsentrasi di saat pembahasan skrip dan inilah hasil kejadian pada saat latihan menghadapi lomba teater yang akan dilaksanakaan beberapa hari kemudian di Banjarmasin.

Pengalaman berakting yang paling memalukan yang pernah aku lakukan. Pada saat itu aku hanya berpikir, siapa pun lawan yang berada dihadapanku, aku akan tetap membangun perwatakan dan konsentrasi penuh atas akting yang harus ada pada diriku. Hingga saat ini, jika aku mengingat remaja putri bernama Fitriani, aku akan mengingat kejadian itu. Fragmen kenangan yang sangat jarang di temukan.

Penjelasan lebih lanjut, semua penggambaran cerita di atas itu hanya sebatas pemeranan saja. Jadi walaupun ada kata yang berarti menampar seseorang tepat di wajahnya, gerakan itu tidak sebenarnya tepat mengenai wajah seseorang. Tentunya gerakan itu sudah direncanakan sebelumnya (mohon dipahami).

 Fitriani PRIETENIA. Fitriani adalah adik tingkatku semasa SMA dan PRIETENIA itu menunjukkan bahwa dia adalah anak dari sanggar teater SMAN 1 Amuntai. Di sanggar itulah kami menjalin hubungan kekerabatan yang sangat erat. Begitu pula dengan anak-anak lain seperti Tobi, Ana, Tika, Aulia, Cindy, Rezka, Yulan, Hasyim, Anggi, Nelly, dan beberapa orang yang tidak kurang berharganya dari mereka semua. Hal yang paling di tunggu selama satu minggu adalah “kapan latihan teater akan dilaksanakan”. Karena hanya disaat itulah persahabatan itu berkumpul dalam kebersamaan yang tidak di jumpai pada hari-hari biasanya.

Fitriani PRIETENIA, sosok yang pemalu diantara sahabat-sahabat lain. Ini pada awalnya saja, karena anak-anak PRIETENIA akan memiliki kepercayaan diri yang tidak sama dengan manusia biasa jika sudah menjalani pelatihan dalam beberapa bulan. Memiliki suara yang kalem (sopan), seorang sahabat yang sangat baik dan anak yang mudah bergaul dengan siapa saja. Ku pikir setiap orang yang akan dekat dengannya pasti akan sangat tertarik dengan kepribadiannya karena sikapnya yang sangat bersahabat. Satu hal lagi, setiap kali ada seseorang yang bertemu dengannya pertama kali pasti akan merasakan aura ketenangan yang muncul pada dirinya. Lebih tepatnya dia memiliki wajah yang protagonis (berwatak baik). Dia juga memiliki kebaikan hati yang unik dari yang lain. Dapat kau temukan jika kau berteman dengannya.

Kedekatan diantara aku dan Fitriani hanya terjadi dalam satu tahun saja. Pada saat aku kelas XI dan mereka di kelas X. Karena “keadaan” bahwa sanggar itu sudah menutup kelopak persahabatannya ketika aku kelas XII dan mereka kelas XI. Tertutup bukan berarti persahabatan itu tidak akan terbuka lagi atau sudah sirna-kan? Hanya saja ini karena “keadaan” dan kesibukan oleh orang-orang yang ada di dalamnya. Tapi “keadaan” bukan hal yang aku salahkan, karena keadaan ini hadir oleh sebuah kewajiban yang menuntut itu semua harus terjadi. Banyak ungkapan dalam paragraf ini. Hanya diantara dari mereka yang dapat aku percaya bisa menerjemahkannya ke dalam kalimat yang lebih mudah dipahami.

            Aku mengingat satu fragmen lagi yang tidak harus aku ceritakan disini. Aku hanya menggambarkan sedikit apa yang pernah terjadi pada dirinya sekitar satu tahun yang lalu. Ini tentang seseorang yang memiliki sebuah ikatan yang kemudian ikatan itu diputuskan oleh satu pihak dan pihak lain yang merasa tersakiti dan dibohongi. Apapun dan bagaimana pun pahitnya cerita ini, pasti memiliki makna yang akan menghadirkan keindahan di dalamnya. Aku percaya seseorang yang pernah menyakiti hati Fitriani itu juga sekarang sudah berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Aku memohon, jika ada yang ingin membahas paragraf ini simpanlah niat itu. Disini aku hanya menggambarkan fragmen kenangan yang selama ini pernah dia kisahkan dan kenangan dari dirinya yang sebenarnya ada pada diriku. Kenangan yang lalu adalah masa lalu dan hanya makna kebaikan dari kisah itu yang boleh kita ambil. Saat itu, penempatanku sebagai seorang kakak, jujur aku juga sangat emosi dengan apa yang di alami Fitriani. Siapa yang tidak ikut marah jika sahabatnya tersakiti. Tapi setelah itu aku cukup lega karena hadirlah sosok yang baru di hatinya. Seseorang itu sangat menyayangi Fitriani. Aku berpikir Fitriani juga sudah dapat melupakan kenangan pahit itu karena kehadirannya. Walaupun kini mereka terpisahkan oleh jarak, aku percaya hubungan mereka akan tetap sama. Hanya bisa mendoakan jalan yang terbaik. Apapun itu….

            Aku tegaskan sekali lagi, fragmen kenangan ini aku gambarkan sebagai kado bagi semua sahabatku. Dengan ini juga, aku berharap kita bisa mengambil segala makna yang terkandung dalam perjalanan kehidupan seseorang yang kita kenal. Bagaimana pun cerita yang terjadi di masa lampau, itu sudah tercetak abadi karena perbuatan kita-kita juga. Tidak usah menyesali atau merasa sakit hati atas kenangan pahit itu. Karena hanya akan menghapus semua kenangan yang lebih berharga dari itu, yakni kenangan yang sesungguhnya indah. “Semoga siapa pun yang membaca ini memahami apa yang sedang aku pikirkan. Tidak ada niat untuk menyebarkan keburukan siapa pun disini.” Tugas kita hanya menjalani kehidupan yang sekarang mereka sedang menunggu kita. Kita hanya bisa memilih, apakah akan mencetak kenangan pahit itu kembali atau memperbaiki sebuah perjalanan agar dapat kita kenang dengan indah di masa yang akan datang.

            Kini Fitriani akan selalu aku ingat sebagai seorang sahabat yang memberikan segala makna atas perjalanan dalam kehidupannya. Begitu pula dengan semua sahabat yang memberikan hal yang sama kepadaku. Perjalanan kehidupan kalian akan menjadikanku sosok yang akan selalu menghargai dan mempercayai persahabatan atas nama diriku, Rodhiya Noor Fajri PRIETENIA Shinjiru.

Shinjiru : Mempercayai



۞  This Is Our WãΫ  ۞
Karena ini semua adalah jalan yang harus kita tempuh bersama.

Untuk
Shinjiru, Aldaith, Albus dan semua orang yang selalu berada disekelilingku.
Kupersembahkan catatan ini untukmu dan untuk mengenang persahabatan indah di masa remaja yang kita lewati bersama di sekolah, disaat kau dulu begitu setia mendengarkan dengan tulus cerita-cerita fantasi dari sesuatu yang menggugah jiwa. Kuharap kenangan ini dapat memberikan makna untuk kehidupanmu dan atas kenangan yang akan selalu ada. Kini aku bisa dengan lantang mengatakan kepadamu bahwa aku sudah mempercayai satu hal. “Kini aku percaya kepada orang-orang disekelilingku yang selama ini memberikan segalanya kepadaku. Sebuah “PERSAHABATAN.”


۞  Short Note  ۞
Jika ada kesalahan dalam penulisan (terutama masalah nama), tidak setuju atas fragmen kenangan ini. Bisa kalian ajukan kritik dan saran langsung kepadaku (tentunya yang sopan dan membangun). Catatan ini bisa saja aku perbaiki, edit, kurangi atau ditambah karena aku tidak mungkin ingat semua fragmen kenangan dalam menulis ini. Alangkah baiknya langsung memberikan komentar dalam catatan ini. Jangan lupa, jika menyukai fragmen kenangan ini. Kasih saja “Jempol”-nya. Arigatou Gozaimasu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar