BLOGGER TEMPLATES AND Google Homepages »

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang

Kami Tidak Pernah Lelah Menggapai Bintang
Kenangan Observasi Tugas Perkembangan Peserta Didik

Selasa, 14 Februari 2012

Sesulit Itukah MENGHARGAI

   Drs. Mahmud, M.Pd “Apa susahnya menghargai orang lain? Manusia memang sombong ya? Yaah,,,, sombong kepada sesama manusia saja pasti akan dikucilkan bukan? Apalagi si manusia itu sendiri yang sombong kepada Tuhan. Harusnya yaa,…. kita bukan meminta untuk dihargai orang lain tapi SALING. Enak kan kalau saling mencintai? Saling menghargai?  Kalau saya minta hargai. Ah AKU TIDAK MAU, Memang berapa harga saya? (masih membahas topik ini, beliau kemudian mengalihkan kepada topik) Ahh,,,, Kalian jangan hanya berpacu kepada MELODI saja kalau kuliah. Bukan pula perkara niat, mudah tidaknya tidak tergantung kepada NIAT, tapi PROSES kalian dalam menjalani kuliah. Yaaa… belajarlah untuk bisa mencintai walau tidak mencintai." *mata kuliah maksudnya”

    Dalam sebuah pertemuan pertama dalam sesi perkenalan. Pemikiranku hari ini “pertemuan pertama itu akan mencetak bagaimana karakter diri seseorang yang memperkenalkan diri kepada sosok seseorang dihadapannya.” Di atas pada paragraf pertama itu adalah hal-hal dari kata-kata seorang dosen bernama Pak Mahmud pada pertemuan pertama mata  kuliahBahasa Indonesia SD II di hari kedua masuk kuliah (Selasa, 14 Februari 2012). Satu hal yang menjadi obsesiku atas perkataan beliau hari ini adalah “Apa susahnya sih menghargai orang lain?”  Beberapa minggu yang lalu memang sudah ingin mempostingkan catatan yang bertema “harga.” Tapi belum mendapatkan pemikiran yang pas bagaimana memulainya. Semoga dengan catatan ini bisa membuka sedikit hati kita dalam memaknai segala sesuatunya menjadi perkara yang kita tidak terbiasa atas itu.

Indahnya Menghargai
    Sesuai tema, kita akan bersama membuka pemikiran mengenai “harga seseorang.” Ketika kita mengatakan mengenai harga, apa yang terpikir oleh kita? *pikirkanlah dulu. Jawabannya: Sebuah kepastian kita akan memikirkan menginginkan mendapatkan sebuahhal dengan modal yang kecil dan mendapatkan manfaat yang bekali-kali lipat bukan? Tapi jangan masukkan dulu teori ini. Ini hanya sebuah teori dimana seseorang menginginkan keutungan yang besar dengan menginginkan modal yang seminimalisir mungkin. *Ekonomi Teorism.

    Berbeda dengan “harga seseorang” diri manusia. Ini bukan sebuah perkara yang tidak bisa ditukar dengan materi apapun tapi “harga seseorang” juga tidak lebih mahal dari sebuah permen. Penjelasannya demikian, “kita tidak akan pernah mendapatkan sebuah hati yang penuh dan rasa penghargaan yang ikhlas dari orang lain ketika kita menghitung dan menginginkan keuntungan yang bagaimana akan kita dapatkan kelak. Ketika kita tidak memberikan sebuah modal (modal disini banyak maknanya ya?) dengan hari ikhlas kita terlebih dahulu, meskipun modal itu hanya sebongkah kecil permen yang tidak tenilai dibandingkan ketika kita memberikan sekarung permen tapi disana bertuliskan:

“KAMU HARUS MENGHARGAI ‘KU SEBAGAI UCAPAN TERIMA KASIH KARENA AKU SUDAH MEMBERIKAN MU SEKARUNG PERMEN dan…. AKU IKHLAS KOK!”

    Menurutku menghargai orang lain itu sulit. *aku tarik kata-kataku pada awal-awal paragraf ya? Karena memang perkara ini sungguh sulit, di zaman sekarang ini. Dimana tingkat individualisme masyarakat kita yang cukup tinggi. Mau bukti? Sebutkan aja siapa nama lengkap tetangga di sebelah rumahmu. Kamu tahu? OK OK,,, masih wajarlah kamu tidak mengetahui. Aku ganti saja pertanyaannya. Siapa nama lengkap kedua kakek dan kedua nenekmu? *disini aku hanya bergurau saja yosh? Jangan terlalu memasukkan ke dalam hati. Hanyacontoh sederhana dan candaan saja dalam menekankan bahwa tingkat individualisme dan ketidakperdulian terhadap sesuatu yang sederhana ini memang tinggi.

    Susah memang membentuk sebuah HABIT (kebiasaan) untuk bisa menghargai orang lain ya? Meskipun itu hanya sekedar mengucapkan terima kasih misalnya ketika kita mendapatkan bantuan dari orang lain. Begitu sulitkan?

Kita kembali membuka sebuah pengalaman, ini akan diperankan oleh sosok guru yang bagiku sangat inspiratif, memiliki ketegasan dan tidak ingin meminta dihargai oleh orang lain (siswanya). Wajar saja beliau sering memasang wajah yang agak tegas yang kebanyakan siswa ya katakan beliau “killer” (saya tidak termasuk daftar dari sebgian siswa yang mengatakan itu). Ibu Dwi Upayani (Pengajar Bahasa Indonesia) ketika kelas X SMA. Ilustrasi kejadian nyatanya demikian:

Dwi Upayani
    Saat itu jam pertama (pagi), ketika semua siswa ke depan mengumpulkan sebuah tugas cerita rakyat Indonesia pada sebuah kertas dan ternyata tugas yang dikumpulkan pagi itu harus di steples (diceklek “bahasa banjar”/di pasangkan sebuah besi kecil yang difungsikan merekatkan beberapa lembar kertas *ribetnya menjelaskan ) dengan tugas sebelumnya yang sudah dikoreksi oleh Ibu Dwi. Ibu Dwi bertanya, “Ada yang punya steples tidak?” Salah seorang mengatakan “Ada” dan dia maju ke meja depan. Dia juga dimintai membantu dalam menyusun semua tugas itu. Anak-anak lain ya diem dan sebagian bicara aja disisi lain. Tiba-tiba ada satu orang anak laki-laki yang ke depan mengumpulkan tugasnya (terlambat, mungkin dia saat itu berusaha sedikit menyelesaikan beberapa paragraf cerita rakyatnya). Anak laki-laki itu hanya melempar kertas tugas itu dan dengan jalan cepat duduk lagi ke bangkunya. Spontan aku juga kaget pada saat anak itu mengumpulkan tugasnya dengan cara itu dan Ibu Dwi yang karakternya juga tegas ngomong demikian, “Ahh !! Kalian ini pernah mengucapkan Terima Kasih  tidak terhadap sesuatu yang membantu kalian dalam beberapa hal?, lihat …. (Ibu Dwi menyebutkan nama orang yang membantu mensteples dan menyusun tugas-tugas anak lainnya) si SENSORED sudah meminjamkan steples dan menyusunkannya untuk kalian. Sedangkan kalian bersikap demikian”

 






Memberi tanpa Balas Kasih
Yang membuatku salut, beliau tidak nge’judge anak laki-laki itu dan hanya mengankat tema nasehat “bagaimana cara kita menghargai sesuatu yang sederhana dan mengucapkan TERIMA KASIH.  Sungguh masih ingat sampai saat ini. Nah, begitu sederhana memang ketika kita menghargai sebuah perkara yang wujudnya juga sederhana untuk dihargai bukan? Tapi apa ini mudah untuk dilakukan? Aku simpulkan ini tentang sebuah PEMBIASAAN (HABIT).

Aku mengetahui sebuah teori bagaimana kita menjadikan sebuah HABIT menjadi sebuah tindakan yang akan OTOMATIS dilakukan. Yakni dengan membiasakannya dalam wakti 30 hari, 95 hari akan menjadikan tindakan kita menjadi sebuah PEMBIASAAN yang sulit ditinggalkan dan  akan menjadi sebuah tindakan yang otomatis dilakukan dalam waktu ke 96 hari setelah itu. Apa ini mudah? Sulit bukan?



BAD HABIT , GOOD HABIT, It uour Choise
Begitu pula dengan bagaimana cara kita belajar menghargai orang lain. Dimana pun, praktek memang selalu lebih sulit ketika kita hanya sekedar membual saja dengan permainan kata dan lagi….. inilah kehidupan. Ketika kita merasa sesuatu hal itu sudah lebih baik dari kepemilikan orang lain kita akan lebih cenderung TIDAK menghargai kepemilikan orang lain tersebut. Sederhananya…. Anda memiliki sebuah BARANG yang harganya lebih mahal dari kepunyaan teman Anda, ketika Anda menanamkan sebuah pemikiran itu adalah BARANG Anda. Maka Anda pada saat itu juga akan menanamkan rasa merendahkan barang milik teman Anda. Bukankah demikian prosesnya kita memulai menanamkan sebuah rasa yang dinamakan “Tidak menghargai?”

Jadi bagaimana solusinya? Jawabnya MENANAMKAN sebuah pemaknaan bahwa segala sesuatu yang kita miliki saat ini bukan milik kita. Tetapi milik’Nya adalah salah satu solusi yang paling ampuh. Segalanya memang akan kita kembalikan kepadanya bukan? Sederhana dan tahap sulitnya di PEMBIASAAN. Selalu berjuanglah dalam memaknai segala sesuatunya sobat. Semoga kita bisa sama-sama belajar menjadi sosok yang bijak dalam perkara kebaikan.



Jadi, sesulit itukah menghargai orang lain? Apakah sesulit kita berusaha bagaimana menghargai diri kita sendiri? Segalanya akan mudah jika dimulai dari hal yang sederhana. *kembali menarik kata-kata nih…. Suka membolak-balikkan materi.

“Catatan Pendek”
*mengenai kata-kata dalam kalimat Bapak Mahmud lainnya selain menghargai. Maknai sendiri ya? Dalam hal ini temanya hanya bagaimana menghargai segala sesuatunya, bagaimana memulai untuk menanamkan penghargaan, bagaimana proses kita bisa tidak menghargai sesuatu hal dan bagaimana solusinya.

*Kunjungi blog ‘ku juga, karena semua postinganku ada disana ( prietenia-shinjiru.blogspot.com ) . Shinjiru artinya mempercayai dan Prietenia artinya persahabatan, ada cerita dan makna di balik kata ini. Ingin mengetahuinya? Ajaklah aku berbicara untuk membahasnya. Salamku > legatura de prietenia…..


۞  This Is Our WãΫ  ۞
Karena ini semua adalah jalan yang harus kita tempuh bersama.

Untuk
Shinjiru, Aldaith, Albus dan semua orang yang selalu berada disekelilingku.
Kupersembahkan catatan ini untukmu dan untuk mengenang persahabatan indah di masa remaja yang kita lewati bersama di sekolah, disaat kau dulu begitu setia mendengarkan dengan tulus cerita-cerita fantasi dari sesuatu yang menggugah jiwa. Kuharap kenangan ini dapat memberikan makna untuk kehidupanmu dan atas kenangan yang akan selalu ada. Kini aku bisa dengan lantang mengatakan kepadamu bahwa aku sudah mempercayai satu hal. “Kini aku percaya kepada orang-orang disekelilingku yang selama ini memberikan segalanya kepadaku. Sebuah “PERSAHABATAN.”

۞  Short Note  ۞
Sangat penting ketika Anda membaca sebuah tulisan yang berjudul “Pemberitahuan”, karena semua tujuan penulisan catatan ini ada disana dan semua catatan fragmen kenangan lain yang secara tidak langsung berkaitan antara satu dengan yang lain. Banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan, tapi aku ceritakan sepenuhnya dengan alur kehidupan yang baik kepada orang-orang yang aku mempercayai mereka. Sungguh, dalam semua ini sudah banyak hal yang bisa dijadikan pemaknaan atas cerita lain bagi orang-orang yang memiliki pemikiran yang luar biasa. Jika ada kesalahan dalam penulisan, tidak setuju atas fragmen kenangan ini. Bisa kalian ajukan kritik dan saran langsung kepadaku (tentunya yang sopan dan membangun). Alangkah baiknya langsung memberikan komentar dalam catatan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar